Senin, 29 November 2010

Bekal Terakhir Dari Ibu

Lebih dari sebulan berlalu pasca erupsi Gunung Merapi. Namun kengerian, luka dan duka masih tergambar jelas dalam benak semua orang, terlebih lagi keluarga korban, baik pengungsi maupun relawan. Disana beribu orang berjuang bersama maut yang senantiasa mengintai mereka. Begitu banyak kisah pilu yang menyayat dada.

Mereka meninggal dalam tugas. Direlakan keluarga menjemput maut di daerah bencana.

Aris Widyatmoko. Usia 19 tahun. Seharian menolong pengungsi, Kamis petang 4 November 2010 itu, dia terlihat lelah. Ribuan pengungsi itu lari dari kampung-kampung di Kinahrejo, Cangkringan. Dihalau wedhus gembel yang dimuntahkan perut Merapi.


Aries memang dari Cangkringan, tapi kampungnya belum disergap awan panas. Pada erupsi pertama, Selasa 26 Oktober 2010 itu, petaka hanya sampai di kilometer 10 dari pucuk Merapi. Di luar radius itu masih aman. Dan Aris, seperti halnya sejumlah anak muda dari dusunnya, ramai-ramai menjadi relawan. Menolong para pengungsi. Mengangkut barang.
Badan letih. Keringat. Dan kotor. Aries lalu pamit mandi pada ibunya, Rahayu. Sang Ibu juga ikut membantu di pengungsian. Rencananya, sesudah mandi dia meluncur ke Dusun Glagah Mayang. Di situ logistik untuk pengungsi ditumpuk.
Glagah Mayang, dua kilometer dari pengungsian. Ke arah pucuk Merapi.
Dipamiti sang anak, Rahayu yang juga terlihat lelah sontak menyodorkan uang. Dua lembar sepuluh ribu. Uang itu sudah lecek dan kumal. “Untuk beli rokok dengan teman-temanmu,” kata sang Ibu. Sebelum melaju, Rahayu mengingatkan sang anak agar hati-hati, “ Kalau ada apa-apa cepat turun.”
Aries girang. Ini pertama kalinya, sang Ibu merelakan sangu (uang) membeli rokok. Rahayu memang super ketat. Melarang keras sang anak mengepulkan asap. Aries lalu meluncur. Motor melaju di keheningan malam. Melewati rerimbunan pohon bambu. Gelap.
Di rumah dia bertemu sang ayah, Sriyono. Sesudah mandi dia pamit. Seperti sang Ibu, ayahnya juga berpesan agar hati-hati. Dan, jangan lupa makan. Dalam kegelapan malam, Aries kembali memacu motor. Melaju ke Glagah Mayang. Sang ayah ke pengungsian.
Beberapa jam kemudian sirene di pengungsian berpekik meraung. Wajah-wajah cemas. Raung Sirene itu sahut menyahut dengan perintah mengungsi dari pengeras suara.
Jumat dini hari 5 November itu, Merapi kembali mengamuk. Awan panas menusuk langit setinggi 8 kilometer. Membuhul, bergulung-gulung seperti susunan kulit domba. Lalu menghempas ke kampung-kampung, dusun dan desa, dalam radius belasan kilometer. Sejumlah ahli gempa menghitung bahwa dini hari itu, sekitar 100 juta meter kubik material meluncur dari perut Merapi.
Muntah sebanyak itu, Merapi mencatat rekor terbaru. Terdasyat selama 100 tahun belakangan. Horor juga berlipat kali. Warga harus menjauh. Radius aman di luar 20 kilometer dari pucuk petaka. Dan posko pengungsian itu dalam radius bahaya. Cuma belasan kilometer dari mulut Merapi.
Dalam suasana mencekam, Sriyono dan Rahayu membangunkan ibu-ibu tua yang sudah terlelap. Banyak yang bertanya ada apa gerangan. Dalam kegentingan itu, sedetik waktu berarti nyawa. Terlambat bergerak matilah sudah.
Rahayu mengabaikan semua pertanyaan. Terus berpekik agar warga bergegas. "Saya suruh pengungsi naik motor dan truk mencari tempat yang lebih aman," katanya. Jalanan gelap. Listrik mati. Cuma diterangi lampu motor dan mobil yang berebut melaju.
Sudah separuh perjalanan, barulah Rahayu teringat anaknya, Arief Widyatmoko. Markas logistik yang dijaga sang anak itu jelas masuk radius super bahaya. Sembari menghela pengungsi, berkali-kali dia menelpon. Tak bersahut. Nada masuk pun tidak. Rahayu cemas alang kepalang.
Sang ayah berusaha balik arah. Tapi itu seperti memacu motor menuju “kematian”. Baru puluhan meter melaju, suara gemuruh terdengar kencang. Cuma beberapa depa di depan Sriyono, api melahap pohon-pohon bambu. Sriyono balik kanan. Menjauh dari kenggerian itu. Kepanikan merasuki puluhan ribu orang. Awan panas sudah mengalir di Sungai Gendol, yang tak berapa jauh dari pengungsian.
Kengerian dan haru biru itu ditonton berjuta mata dari seluruh negeri. Sejumlah stasiun televisi yang menggelar siaran langsung, memperlihatkan betapa kematian tidak saja dekat , tapi juga mengejar. Orang-orang tiba di Yogyakarta dengan debu tebal menempel baju, jaket, hidung, dan kepala. Juga menutup mobil, menutup lampu, yang membuat jalanan gelap gulita.
Bergegas dalam kegelapan itulah yang menyebabkan satu keluarga tewas. Mereka salah arah. Mestinya ke Yogyakarta, malah menghampiri Merapi. Menghampiri kematian.
Rahayu yang membantu para pengungsi menuju Yogyakarta, terus menelepon sang anak. Tapi sama sekali tak bersahut. Di lokasi pengungsian yang baru, dia akhirnya tahu bahwa Glagah Mayang sudah tertimbun awan panas. Rahayu meraung menangis. Bersama suaminya, dia bergegas ke sejumlah lokasi pengungsian lain. Berharap sang anak masih hidup. Berkali-kali pula mendatangi Rumah Sakit Sardjito, tempat korban tewas dan luka dirawat.
Empat hari ke sana-ke mari hasilnya sia-sia belaka.
Dan berita duka itu datang Senin pagi, 8 November 2010. Tim SAR menemukan Aries dalam kondisi terpanggang. Jenazah diangkut ke Sardjito. Rayahu histeris melihat kantong mayat itu.”Maafkan Ibu nak,”dia berseru berkali-kali, sembari berlutut memandang kantong itu.
Adalah Rahayu yang mewariskan darah relawan kepada Aries. Ibu berusia 50 tahun ini sudah lama bergabung dalam Taruna Siaga Bencana (Tagana). Rahayu memang sempat ragu ketika sang anak bergabung dalam Tagana. Belakangan dia bangga sebab Aries terlihat tekun. Senang. Iklhas menolong pengungsi.

Saat erupsi pertama, 26 Oktober 2010, Aris membantu ibunya mengevakuasi warga di sekitar Merapi. Juga ikut mengumpulkan obat dan makanan. “Padahal anak itu suka susah dikasih tau orang tua,”kenang Rahayu kepada VIVANews.com.


(source vivanews)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar